Minggu, 02 November 2014

Bulan Terbelah

Terdapat bayak Mukjizat-mukjizat yang diingkari oleh kaum musyrik disebabkan kedengkian mereka terhadap islam,  Di antaranya adalah Mukjizat Peristiwa terbelahnya Bulan yang disebutkan dalam Al-Quran di Zaman Rasulullah Saw atau 14 Abad yang lalu:
Telah dekat datangnya Hari Kiamat dan Bulan telah terbelah * Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: “(Ini adalah) sihir yang terus menerus” * Dan mereka mendutakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya  [القمر: 1-3]

“Dari Abdullah Berkata bahwa Bulan terbelah menjadi dua bagian di zaman Rasulullah, kemudian Rasulullah Saw bersabda: “Saksikanlah”  (HR. Muslim: 7249)

Dalam diriwayat lain dijelaskan bahwa  Ketika kaum Kafir Makkah meminta Rasulullah untuk memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah serta menguji kebenaran Risalah baginda Rasulullah dengan memintanya Membelah Bulan, maka Allah Swt mengabulkan Doa beliau hingga pada malam hari tampaklah bulan terbelah menjadi Dua bagian, di mana bagian lainnya berada di sisi  Gunung Safa dan bagian lainya di sisi Gunung Qaikaan dan terlihat di antaranya bukit Hira , tapi mereka Kafir Makkah malah mengingkari Mukjizat tersebut dan berkata: “Muhammad telah Menyihir Kita”, kemudian sebagiannya berkata:  “ jika benar kita tersihir dia tidak akan bisa menyihir semua manusia Maka tunggulah sampai datang berita dari Orang-orang yang melakukan perjalanan jauh, ketika mereka (para Musafir) tiba mereka pun mengatakan bahwa mereka menyaksikan hal yang serupa. Tetapi Kaum Kafir Makkah tetap mengingkari Mukjizat tersebut dan berkata : “…(Ini adalah) sihir yang terus menerus”.

Beranjak Dari berbagai Riwayat yang serupa, kita dapat meyimpulkan bahwa kejadian itu tidak hanya disaksikan oleh kaum Kafir Makkah saja tetapi Manusia yang berada di tempat selain Makkah pun pada waktu itu dapat menyaksikan peristiwa itu seperti yang dilakukan oleh Abu Jahal bahwa dia pernah menunggu para pedagang yang berdatangan dari berbagai Negeri jauh (seperti Syam) untuk menanyakan Peristiwa tersebut, maka mereka juga menyaksikan hal tersebut.

Bagaimana Islam masuk ke India ?

Terdapat sebuah wawancara dengan Raja Valiyathampuram (87 tahun) dari Kodungallur di Central Kerala, beliau adalah keturunan dari Raja Cheraman Perumal (India pertama yang memeluk Islam pada awal abad ke-7), jika berbicara dengannya seakan berbicara mengenai sejarah, Dalam wawancaranya bersama AU Asif (Pewawancara) tersebut beliau sempat ditanya: apakah benar Islam masuk ke india melalui Mukjizat pembelahan Bulan yang dilakukan Oleh Nabi Muhammad atau islam masuk ke india tidak dengan Pedang ?

Beliau menanggapi pertanyaan itu dengan menjelaskan bahwa: awal masuknya Islam ke India disebabkan peristiwa Bulan terbelah yang pada suatu malam, saat sang Raja bersama Istrinya berada di atas Istana tiba-tiba mereka menyaksikan Bulan yang terbelah menjadi dua bagian. Lewat para pengembara dan pedangang dari berbagai Negeri asing sang Raja pun akhirnya tahu bahwa kejadian itu merupakan Mukjizat Nabi Muhammad yang berada di Jazirah Arab.

Maka Sang Raja pun pergi menemui Rasulullah Saw setelah membagi-bagikan harta kerajaannya dan menunjuk putranya menjadi Gubernur serta membagikan tanahnya kepada para pemimpin Lokal untuk menjamin kesejateraan kehidupan Kerajaannya.

Beliau masuk Islam di tangan Rasulullah Saw yang disaksikan oleh Abu Bakar Radiallahu Anhu dan mengganti namanya menjadi Tajuddin, Sang Raja meninggal dalam perjalanan kembali ke India dan dimakamkan di jalan di tepi Laut Arab. Dikatakan bahwa sang Raja Muslim ini telah mengirim Surat kepada para menteri lokal kerajaannya lewat Malik bin Dinar sahabat Nabi.

Dalam suratnya Beliau berwasiat bahwa si pembawa surat ini harus mendapat perhatian ekstra, penjamuan dan memuliakannya serta mengizinkannya untuk membangun mesjid di Negeri India pada saat itu. Karena menghormati Raja Cheraman, Penguasa Kerala membagun Mesjid (dibangun pada awal abad ke-7) di Kodungallur yang dikenal sebagai Masjid Malik Cheraman.

Sampai sekarang mesjid tersebut masih ada, seperti yang dijelaskan oleh Raja Valiyathampuram bahwa mesjid itu adalah mesjid tertua di India yang namanya diambil dari Cheraman Perumal dan Malik Ibn Dinar, dan digabungkan menjadi `Masjid Malik Cheraman`. Pemimpin pada waktu itu memudahkan urusan Malik Bin Dinar R.a untuk menyebarkan Islam di India dengan kebenaran Mukjizat terbelahnya Bulan.

Seperti yang diceritakan bahwa Malik Bin Dinar wafat di Kasaragod yang kini bernama Karnataka. Raja Cheraman dan Malik Bin Dinar keduanya dikuburkan sisi Laut Arab di mana satunya di Saalala di Oman dan satunya lagi ada di Kasaragod di India. Dengan kata lain, kuburan mereka terhubung dengan air laut.

Manuskrip Kuno
Juga hal yang sama dialami oleh bangsa dan kebudayaan-kebudayaan lain sebagian dari mereka mencatat keajaiban peristiwa itu , seperti yang terdapat dalam manuskrip Madrid dan Manuskrip Bangsa Maya kuno dalam Ilmu perbintangan.

Misteri Kematian Matahari

Dan Matahari berjalan ke tempat Peristirahatannya. Itu adalah keputusan dari Yang Mahakuasa, Yang Maha Mengetahui. (Surah Ya Sin, 38)

Matahari telah memancarkan panas selama sekitar 5 miliar tahun sebagai akibat dari reaksi kimia konstan berlangsung pada permukaannya. Pada saat yang ditentukan oleh Allah di masa depan, reaksi ini pada akhirnya akan berakhir, dan Matahari akan kehilangan semua energi dan akhirnya Mati. Dalam konteks itu, ayat di atas dapat dijadikan acuan bahwa pada suatu hari energi matahari akan segera berakhir. (Allah maha tahu akan kebenarannya).

Kata Arab “limustaqarrin” dalam ayat ini merujuk pada tempat tertentu atau waktu. Kata “tajrii” diterjemahkan sebagai “berjalan,” juga bermakna seperti “untuk bergerak, untuk bertindak cepat, untuk bergerak, mengalir.”

Tampaknya dari arti kata bahwa Matahari akan terus dalam perjalanannya dalam ruang dan waktunya, tetapi pergerakan ini akan berlanjut sampai waktu tertentu yang telah ditetapkan. Ayat “Ketika matahari dipadatkan dalam kegelapan,” (QS. at-takwir, 1) yang muncul dalam deskripsi Hari Kiamat, memberitahu kita bahwa seperti waktu itu akan datang. Waktu tersebut hanya diketahui oleh Allah.

Kata Arab “taqdiiru,” diterjemahkan sebagai “keputusan” dalam ayat tersebut, termasuk makna seperti “untuk menunjuk, untuk menentukan nasib sesuatu, untuk mengukur.” Dengan ungkapan dalam ayat 38 dari Surah Ya Sin, kita diberitahu bahwa masa hidup Matahari terbatas pada jangka waktu tertentu, yang ditahbiskan oleh Allah.
Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu. (QS. Ar-Ra’d, 2) 

Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. (Surah Fatir, 13)

Penggunaan kata “musamman” dalam ayat di atas menunjukkan bahwa masa hidup Matahari akan berjalan untuk “jangka waktu tertentu.” Analisis ilmiah tentang akhir Matahari menjelaskan sebagai mengkonsumsi 4 juta ton materi kedua, dan mengatakan bahwa Matahari akan mati ketika bahan bakar yang dimiliki semua telah dikonsumsi oleh matahari.

Panas dan cahaya yang dipancarkan dari matahari adalah energi yang dilepaskan seketika. Inti hidrogen berubah menjadi helium dalam proses fusi nuklir. Energi Matahari, dan karena itu hidupnya, sehingga akan berakhir setelah bahan bakar ini telah digunakan. (Allah maha mengetahui kebenaran.) Laporan berjudul “The Death of the Sun” oleh Departemen Ilmu BBC News mengatakan:
… Matahari secara bertahap akan mati. Sebagai inti bintang ke dalam kehancuran, akhirnya akan menjadi cukup panas untuk memicu atom lain menyusunnya menjadi helium.

Sebuah dokumenter, juga berjudul “The Death of the Sun,” disiarkan oleh National Geographic TV, memberikan penjelasan sebagai berikut:
Matahari menghasilkan panas dan menopang kehidupan di planet kita. Tapi seperti manusia, Matahari juga memiliki umur yang terbatas. Seiring dengan penuaan bintang tersebut, Matahari akan menjadi lebih panas dan menguapkan semua lautan kita dan membunuh semua kehidupan di planet Bumi … Matahari terus menjadi lebih panas karena usia dan membakar bahan bakar lebih cepat. Suhu akan meningkat, akhirnya memusnahkan kehidupan hewan, penguapan laut dan membunuh semua kehidupan tanaman … Matahari akan membengkak dan menjadi bintang raksasa merah, menelan planet-planet terdekat. Daya tarik gravitasinya akan mengurangi dan mungkin memungkinkan Bumi melarikan diri. Pada akhirnya, ia akan menyusut menjadi bintang kecil putih, memancarkan cahaya selama seminggu untuk ratusan miliar tahun.

Para ilmuwan baru-baru ini menguraikan struktur Matahari dan menemukan apa yang terjadi di dalamnya. Sebelum itu, tak ada yang tahu bagaimana memperoleh energi matahari atau bagaimana Matahari menghasilkan panas dan cahaya.
Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) ?” (QS. Al-An’aam, 80)
miraclesofthequran

Peristiwa Air Asin dan Air Tawar yang Bertemu Namun Tidak Menyatu

Ada beberapa fakta yang menyatakan bahwa di permukaan bumi terdapat pertemuan air asin dan air tawar yang bertemu namun seakan-akan ada sekat yang memisahkan, sehingga keduanya tidak pernah menyatu. Fakta tersebut diantaranya: pertemuan dua lautan di Selat Gibraltar (antara neagra Maroko dan Spanyol), pertemuan dua sungai yang bermuara di bagian selatan dekat Cape Town, Afrika Selatan, pertemuan dua aliran sungai di Manaus Amazon, dan sungai bawah laut Cenote Angelita atau Goa Bidadari Kecil di Meksiko.

Menurut logika, apabila dua lautan atau aliran sungai yang satu asin dan yang lain tawar bertemu, keduanya akan bercampur untuk mencapai keseimbangan. Namun ada kekuasaan Allah yang mana manusia tidak memiliki pengetahuan tentang itu, sesuai dengan pernyataan Allah dalam Al-Quran, “ Tidak Aku berikan ilmu kepada manusia kecuali hanya sedikit”.

Namun, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, peristiwa ini dapat dijelaskan dengan modern science. Menurut modern science, sifat dua lautan ketika betemu tidak bisa bercampur satu sama lain. Hal ini telah dikemukakan oleh ahli kelautan baru-baru ini. Peristiwa tersebut dikarenakan oleh adanya perbedaan massa jenis, dan gaya fisika yang disebut ‘tegangan permukaan’ dari masing-masing air, sehingga keduanya tidak bercampur dan seolah-olah terdapat dinding tipis yang memisahkannya. (Davis, Richard A., Jr. 1972, Principles of Oceanography, Don Mills, Ontario, Addison-Wesley Publishing, s. 92-93.)

Menurut berbagai sumber, keajaiban alam ini baru diketahui menjelang abad ke-20. Namun sebenarnya fenomena alam yang menakjubkan ini telah disebutkan Allah dalam Al-Quran 14 abad yang lalu. Al-Quran menyebutkan bahwa ada penghalang di antara dua lautan yang bertemu dan keduanya tidak bisa melampauinya. Secara lebih jelas, terdapat pada Al-Quran dengan keterangan sebagai berikut:
(20)مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ  (19) بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَا يَبْغِيَانِ
"Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tak dapat dilampaui oleh masing-masing." (QS Ar-Rahman : 19-20)

وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَحْجُورًا
"Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi." (QS Al-Furqan : 53)

Pada ayat Al-Quran diatas secara jelas Allah menjelaskan bahwa pada pertemuan dua air yang satu asin dan yang lain tawar mengalir berdampingan dan bertemu, namun diantara keduanya terdapat batas seperti dinding yang memisahkan air satu dengan air yang lainnya. Itulah salah satu Kemaha Besaran Allah terhadap segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. ‘Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?’

Pada peristiwa petemuan dua laut di Selat Gibraltar, hal ini disebabkan oleh arus yang sangat besar di bagian bawahnya karena perbedaan suhu, kadar garam (salinitas), dan kerapatan air (densitas). Air laut di Laut Tengah (Mediterania) memiliki kerapatan dan kadar garam yang lebih tinggi dari air laut yang ada di Samudera Atlantik. Menurut sifatnya, air akan bergerak dari kerapatan tinggi ke kerapatan yang lebih rendah, sehingga arus di Selat Gibraltar bergerak ke barat menuju Samudera Atlantik. Namun ketika air laut dari Laut Tengah menuju Samudera Atlantik tidak bercampur karena seolah-olah ada sekat pemisah yang sangat jelas. Karena air laut dari Samudera Atlantik berwarna biru cerah dan air laut dari Laut Tengah berwarna lebih gelap. Air dari Laut tengah menyusup di bawah air dari Samudera Atlantik di bawah kedalaman 1000 m dari permukaan laut dan terus masuk sejauh ratusan km di lautan Atlantik dan tetap tidak berubah karakteristiknya.

Pada bagian selatan Cape Town, Afrika Selatan, terdapat dua sungai yang berbeda (sungai air asin dan sungai air tawar) yang saling bertemu, namun keduanya tidak bercampur dan seolah-olah ada penghalangnya. Meskipun ombak besar, arus yang kuat, dan laut pasang namun kedua sungai tersebut tidak mampu melewati penghalang antara keduanya.

Begitu juga yang tejadi di Manaus Amazon, kedua aliran sungai betemu, namun tidak saling bercampur karena perbedaan suhu dan kerapatan alirannya, yang ditandai dengan pebedaan warna airnya.

Tidak jauh bedanya dengan ke dua pernyataan terakhir, peristiwa pertemuan air tawar dan air asin yang terdapat di Meksiko, yaitu misteri Cenote Angelita atau yang lebih dikenal dengan sungai bawah laut. Ketika kita menyelam sedalam lebih dari 30 m, kita temui air segar layaknya air tawar. Namun setelah kedalaman 60 m, air berubah menjadi asin.

Keindahan musawah, ijaz dan ithnab

Musawah adalah pengungkapan kalimat yang maknanya sesuai dengan banyaknya kata-kata, dan kata katanya sesuai dengan luasnya makna yang dikehendaki, tidak ada penambahan ataupun pengurangan.
 
Contoh-Contoh :
a.Allah Swt.berfirman :
وَمَاتُقَدِّمُوْا لأَنْفُسِكُمْ مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوْهُ عِنْدَاللّه .(البقرة : 110 )
Dan apa-apa yang kamu usahakan dari kebaikan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah.(QS.Al-Baqarah ;110).
b.Allah Swt.berfirman :
وَلاَ يَحِيْقُ الْمَكْرُالسَّيِّءُإِلاَّبِأَهْلِهِ .(فاطر:43 )
Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa kecuali atas orang yang merencanakannya.(Fathir :43).
c.An-Nabighah Adz-Dzubyani berkata :
فَإِنَّكَ كَالَّيْلِ الَّذِيْ هُوَ مُدْ رِكِيْ # وَإِنْ خِلْتَ أَنَّ الْمُنْتَأَى عَنْكَ وَاسِعٌ
Sesungguhnya kamu itu seperti malam yang dapat mengejarku sekali pun engkau menduga bahwa menghindar darimu banyak tempat yang luas.
d.Tharafah bin Abd berkata :
سَتُبْدِيْ لَكَ الأَيَّامُ مَاكُنْتَ جَاهِلاٌ # وَيَأْتِيْكَ بِالأَخْبَارِمَنْ لَمْ تُزَوِّدِ
Hari-hari akan menunjukkan kepadamu apa-apa yang belum engkau ketahui,dan akan datang kepadamu orang-orang yang belum pernah kauberi bekal dengan membawa aneka ragam berita.
-Pembahasan
Bila kita perhatikan contoh-contoh di atas, kita dapatkan bahwa kata-katanya disusun sesuai dengan makna yang dikehendaki, dan seandainya kita tambahi satu kata saja, niscaya tampak ada kelebihan dan bila kita kurangi satu kata saja, niscaya akan mengurangi maknanya. Jadi,kata-kata yang tersusun dalam setiap contoh di atas sama dengan banyaknya makna. Oleh karena itu, pengungkapan kalimat yang demikian disebut sebagai musawah.
 Ijaz    
 
Ijaz  adalah  mengumpulkan  makna  yang  banyak  dalam  kata-kata  yang sedikit   dengan  jelas  dan fasih. Ijaz  yaitu  salah  satu  cara   untuk  menyatakan maksud dengan pernyataan yang kata-katanya kurang dari sebagaimana mestinya, tetapi pernyataan itu cukup memenuhi maksud.

Adapun ijaz ini menurut ahli balaghah terbagi menjadi dua, yaitu:
a. Ijaz qishar
 
Ijaz   Qishar   yaitu   penyampaian   maksud   dengan   cara  menggunakan ungkapan  yang  pendek, namun   mengandung    banyak    makna, tanpa    disertai  pembuangan beberapa kata atau kalimat.

b. Ijaz hadzf

Ijaz Hadzf  yaitu  ijaz  dengan  cara  membuang sebagian kata atau kalimat dengan syarat ada karinah yang menunjukkan adanya lafaz yang dibuang tersebut. 

1. Contoh-Contoh
a.Allah Swt.berfirman :
اَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ.(الأعراف : 54 )
Ingatlah,menciptakan dan memerintah itu hanyalah hak Allah. (QS Al-A’raf:54)
b.Rasulullah Saw.bersabda :
الضَّعِيْفُ أَمِيْرُ الرَّكْبِ
Orang yang lemah itu penguasa suatu rombongan musafir.
c.Dikatakan kepada seorang Arab Badui yang sedang menggiring untanya yang banyak :
لِمَنْ هَذَاالْمَالُ ؟ فَقَالَ :للّهِ فِى يَدِيْ
“Milik siapa harta ini ?”ia menjawab,”Milik Allah di tanganku.”
d.Allah Swt.berfirman :
وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفٌّا صَفٌّا .(الفجر : 22 )
Dan datanglah Tuhanmu, sedang malaikat berbaris-baris.(QS Al-Fajr :22)
e.Allah Swt.berfirman :
ق .والْقُرْانِ الْمَجِيْدِ ,بَلْ عَجِبُوْاأَنْ جَاءَهُمْ مُّنْذِرٌمِّنْهُمْ .(ق :1-2 )
Qaaf, demi Al-Qur’an yang sangat mulia.(Mereka tidak menerimanya), bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka. (QS Qaaf :1-2).
f.Allah berfirman tentang kisah Musa bersama dua anak perempuan Syu’aib :
فَسَقى لَهُمَاثُمَّ تَوَلىّ إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّيْ لِمَااَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيرٍفَقِيْرٌ,فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِيْ
عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِيْ يَدْعُوْكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَمَاسَقَيْتَ لَنَا . (القصص : 24-25 )          
Maka Musa member minum ternak itu untuk(menolong)keduanya,kemudian dia kembali ke tempat yang teduh,lalu berdoa:’’Ya tuhanku, seungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.”Maka datanglah kepada Musa salah seorang dari dua wanita itu berjalan kemalu-maluan, Ia berkata,”Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap(kebaikan)kamu memberi minum(ternak)kami.”(QS Al-Qashash :24-25.
-Pembahasan
Bila kita perhatikan contoh-contoh bagian pertama, kita dapatkan bahwa kata-kata pada setiap kalimat sedikit jumlahnya, namun mencakup banyak makna. Pada contoh pertama terdapat dua kata yang mencakup segala sesuatu dan segala urusan dengan sehabis-habisnya. Sehubungan dengan itu diriwayatkan bahwa Ibnu Umar ketika membaca ayat tersebut berkata,”Barangsiapa yang beranggapan masih ada sesuatu yang lain, hendaklah ia mencarinya.” Contoh kedua merupakan symbol balaghah dan keindahan. Kalimat ini mencakup sopan-santun dalam perjalanan dan keharusan memperhatikan nasib orang lemah. Hal ini tidak mudah diungkapkan oleh seseorang yang baligh kecuali dengan kata-kata yang panjang. Demikian juga halnya dengan contoh yang ketiga. Uslub yang demikian disebut dengan ijaz.Karena lingkup ijaz itu sesuai dengan keluasan cakupan kata-kata sebagian kata atau kalimat, maka yang demikian disebut sebagai ijaz qashr.
 
Selanjutnya pada contoh-contoh bagian kedua, kita dapatkan bahwa kalimat-kalimatnya ringkas juga. Untuk mengetahui rahasia keringkasannya, marilah kita perhatikan contoh keempat.Maka kita dapatkan bahwa sebagian katanya dibuang,sebab diperkirakan asal kalimatnya adalah :”Wa jaa-a amru Rabbika”.Pada contoh kelima juga ada sebagian kalimat yang dibuang,yaitu jawab qasam, karena diperkirakan asal kalimatnya adalah :”Qaaf, wal Qur-aanil-majiid latub’atsunna”(…sungguh engkau benar-benar akan dibangkitkan).Adapun pada contoh keenam, lafaz yang dibuang adalah beberapa kalimat, yang seandainya tidak banyak dibuang, niscaya alur ceritanya adalah : Lalu kedua wanita itu pergi menemui ayah mereka, dan mereka menceritakan hal-hal yang terjadi pada diri Musa. Maka ayah mereka mengutus salah seorang dari mereka untuk menemui Musa. Maka datanglah salah seorang….Karena ijaz pada contoh-contoh bagian kedua ini ditempuh dengan membuang sebagiannya, maka disebut sebagai ijaz hadzf. Disyaratkan bagi ijaz jenis ini harus ada dalil yang menunjukkan lafaz yang dibuang tersebut. Bila tidak ada dalil yang demikian, maka pembuangan sebagian kata/kalimat itu suatu hal yang merusak dan tidak dapat dibenarkan.
Ithnab

Ithnab yaitu menyatakan maksud dengan pernyataan yang melebihi beserta adanya  faidah  (dari kelebihan itu). Jadi  Ithnab  juga  merupakan  salah  satu cara penyampaian   suatu   maksud  akan tetapi  lafaz  kalimatnya  ditambah  melebihi makna  kalimat  yang  ingin  disampaikan tersebut karena suatu hal yang dianggap berfaedah.

Teknik penyampaian ithnab banyak sekali, diantaranya adalah :
a. Dzikrul khash ba’dal ‘am
 
Menyebutkan lafaz yang
khusus setelah lafaz yang umum. Hal ini berfaedah untuk mengingatkan kelebihan sesuatu yang khas itu.

b. Dzkrul ‘am ba’dal khas
 
Menyebutkan lafaz yang umum setelah lafaz yang khusus. Hal ini berfaedah untuk   menunjukkan  keumuman    hukum  kalimat   yang  bersangkutan  dengan memberi perhatian tersendiri terhadap sesuatu yang khas itu.

c. Al-Idhah ba’dal Ibham
 
Menyebutkan lafaz yang jelas maknanya setelah menyebutkan lafaz yang maknanya  tidak  jelas. Hal ini  berfaedah  mempertegas  makna  dalam perhatian pendengar.

d. Tikrar
 
Mengulangi penyebutan suatu lafaz. Hal ini berfaedah, seperti untuk mengetuk jiwa    pendengarnya terhadap     makna     yang     dimaksud,  untuk    tahassur (menampakkan kesedihan), dan    untuk  menghindari    kesalahpahaman   karena banyaknya    anak   kalimat    yang   memisahkan   unsur   pokok    kalimat    yang bersangkutan.  

e. I’tiradh
 
Memasukkan anak kalimat ke tengah-tengah suatu kalimat atau antara dua kata yang berkaitan, dan anak kalimat tersebut tidak memiliki kedudukan dalam i’rab.

f. Tadzyiil
 
(mengiringi   suatu    kalimat   dengan   kalimat   lain  yang mencakup maknanya). Hal ini berfaedah sebagai taukid. Tadzyiil itu ada dua macam :
  1. Jaarin   majral    mitsl      (berlaku    sebagai     contoh)  bila  kalimat   yang ditambahkan    itu    maknanya  mandiri, tidak membutuhkan kalimat yang pertama.
  2. Ghairu   jaarin   majral   mitsl (bila kalimat kedua itu tidak dapat lepas dari kalimat pertama).
g. Ihtiras 
(penjagaan) yaitu bila si pembicara menyampaikan suatu kalimat yang memungkinkan timbulnya kesalahpahaman, maka hendaklah ia tambahkan lafaz atau kalimat untuk menghindarkan kesalahpahaman tersebut.
 
1.Contoh
a. Allah Swt. Berfirman :
Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril. (QS. Al Qadar :4)
 
b. Allah Swt. Berfirman :

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ                     
"Wahai Tuhanku, ampunilah dosa-dosaku, hapuskan dosa ibu bapakku,orang yang masuk kerumahku dengan beriman dan demikian pula dosa-dosa orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan.(QS.Nuh :28)
 
c. Allah swt.berfirman:

وَقَضَيْنَا إِلَيْهِ ذَٰلِكَ الْأَمْرَ أَنَّ دَابِرَ هَٰؤُلَاءِ مَقْطُوعٌ مُصْبِحِينَ                                
Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu subuh.(QS.Al-Hijr :66).
 
d. ‘Antarah bin Syaddad berkata dalam sebagian riwayatnya yang pernah digantungkan pada ka’bah :
يَدْعُوْنَ عَنْتَرَةَ وَالرِّمَاحُ كَأَنَّهَا # أَشْطَا نُ بِئْرٍ فِي لَبَا نِ الأَدْهَمِ
يَدْعُوْنَ عَنْتَرَةَ وَالسُّيُوْفُ كَأَنَّهَا # لَمْعُ الْبَوَارِقِ فِى سَحَابٍ مُظْلِمِ
Mereka mengundang ‘Antarah, sedangkan panah-panah itu seakan-akan tambang sumur di dada kuda.
Mereka mengundang ‘Antarah, sedangkan pedang-pedang itu seakan-akan cahaya kilat di awan yang gelap.
 
e. An-Nabighah Al-Ja’di[1]berkata :
أَلاَزَعَمْتَ بَنُوْسَعْدٍ بِأَنِّى # - أَلاَكَذَ بُوْا – كَبِيْرُالسِّنِّ فَانِى
Apakah anak-anak Sa’ad tidak beranggapan bahwa saya-sebenarnya mereka bohong-adalah orang yang sudah tua dan akan musnah ?
 
f. Al-Huthai-ah berkata :
تَزُوْرُفَتًى يُعْطِى عَلَى الْحَمْدِ مَالَهُ # وَمَنْ يُعْطِ أَثْمَانَ الْمَحَامِدِ يُحْمَدِ
Engkau menengok seorang pemuda yang memberikan hartanya berkata pujian. Siapa orangnya yang member karena dipuji adalah orang yang terpuji.
 
g. Ibnu Nubatah berkata :

لَمْ يُبْقِ جُوْدُكَ لِى شَيْئًا أُؤَمِّلُهُ # تَرَكْتَنِى أَصْحَبُ الدُّنْيَا بِلاَ أَمَلِ
Kemurahanmu tidak lagi menyisakan bagiku sesuatu yang dapat aku harapkan. Engkau meninggalkan aku menempuh kehidupan dunia tanpa harapan.
 
h. Ibnul-Mu’taz menyifati kuda :
صَبَبْنَا عَلَيْهَا – ظَالِمِيْنَ سِيَاطَنَا # فَطَارَتْ بِهَا أَيْدٍ سِرَاعٌ وَأَرْجُلُ
Kami cambukkan kepadanya cambuk-cambuk kami dengan zalim, maka melayanglah tangan dan kakinya dengan cepat.
 
Pembahasan
 
Bila kita perhatikan contoh pertama, kita dapatkan bahwa lafaz “ar-Ruuh”adalah lafaz tambahan karena maknanya telah tercakup oleh lafaz sebelumnya, yaitu lafaz “al-Malaa-ikatu”.Bila kita perhatikan contoh yang kedua, juga kita dapatkan bahwa lafaz “Lii wa liwaalidayya”adalah tambahan juga karena maknanya telah tercakup pada keumuman lafaz “Al-Mu-miniin wal Mu-minaat”. Begitu juga semua lafaz contoh di atas, mencakup kata-kata tambahan, sebagaimana akan dibahas lebih lanjut, dan akan dijelaskan pula bahwa kata-kata tambahan itu tidaklah sia-sia, melainkan didatangkan dari aspek yang halus dari balaghah untuk menambah bobot kalimat yang meninggikan maknanya.Pengungkapan kalimat dengan cara demikian disebut ithnab.
 
Bila kita perhatikan lagi, bahwa teknik ithnab itu bermacam-macam. Cara yang pertama pada contoh pertama adalah penyebutan lafaz yang khusus setelah lafaz yang umum (dzikrul-khash ba’dal-‘am).Dalam ayat tersebut, Allah secara khusus menyebut Ar-Ruuh,yakni Jibril, padahal ia telah tercakup dalam keumuman malaikat. Hal ini dimaksudkan sebagai penghormatan dan penghargaan bagi Jibril, seakan-akan ia dari jenis lain. Jadi, faedah penambahan dalam ayat ini adalah untuk menghormat sesuatu yang khas.
 
Pada contoh kedua adalah dengan menyebutkan lafaz yang umum setelah lafaz yang khusus (dzikrul-‘am ba’dal-khash).Dalam ayat ini Allah menyebutkan lafaz “al-mu-miniin wal mu-minaat”,yang keduanya adalah lafaz yang umum, mencakup orang-orang yang disebut pada lafaz-lafaz sebelumnya. Tujuan penambahan lafaz-lafaz tersebut adalah untuk menunjukkan ketercakupan lafaz yang khas ke dalam lafaz yang umum dengan member perhatian khusus kepada sesuatu yang khas karena disebut dua kali.
Pada contoh ketiga adalah dengan al-idhah ba’dal ibhan (menyebutkan lafaz yang maknanya jelas setelah menyebutkan lafaz yang maknanya tidak jelas)karena firman Allah itu merupakan penjelasan dari bagi lafaz “al-amr”yang disebut sebelumnya. Hal ini dimaksudkan untuk menambah ketegasan makna di hati pendengar dengan disebutkan dua kali, pertama secara umum, dan kedua dengan tegas.
 
Pada contoh keempat kedua bait syair “Antarah adalah dengan cara tikrar (diulang penyebutannya), untuk menegaskan dan memantapkan maknanya di hati pendengar. Maksud ini sangat tampak dalam pidato dan dalam rangka menyombongkan/membanggakan diri,memuji,memberi bimbingan, dan member peringatan. Pengulangan itu dapat juga disebabkan oleh hal-hal yang lain,seperti tahassur (menampakkan kesedihan).Alasan lain lagi adalah karena adanya kalimat pemisah yang banyak, seperti dalam syair :
لَقَدْ عَلِمَ الْحَيُّ الْيَمَانُوْنَ أَنَّنِى # إِذَاقُلْتُ أَمَّابَعْدُ أَنِّى خَطِيْبُهَا
Orang-orang Yaman telah tahu bahwa bila saya berkata”Amma Ba’du”,saya adalah orang yang mengatakannya.
 
Cara kelima adalah dengan cara I’tiradh,yaitu dengan memasukkan satu kalimat atau lebih ke tengah-tengah suatu kalimat atau ke antara dua kata yang berhubungan. Kalimat yang ditambahkan tersebut tidak mempunyai kedudukan dalam I’rab.Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan ke-baligh-an suatu kalimat.Dalam syair An-Nabighah terletak di antara isim inna dan khabarnya, dengan maksud untuk menegaskan peringatan kepada orang yang menuduhkan telah tua.
 
Cara keenam pada contoh keenam dan ketujuh adalah dengan tadzyill,yaitu mengiringi suatu kalimat dengan kalimat lain yang mengandung makna yang sama. Hal ini dimaksudkan untuk mempertegas maknanya. Sesungguhnya pada makna kedua bait syair tersebut telah selesai pada syathar pertama, namun diulas kembali pada syathar kedua. Bila kita perhatikan tadzyill pada kedua contoh tersebut, adanya perbedaan di antara keduanya. Tadzyill pada contoh pertama adalah kalimat yang maknanya mandiri, tidak terikat dengan pemahaman terhadap kalimat sebelumnya.itu dinamakan jaarin majral mitsl(berlaku sebagai contoh).Pada contoh kedua dinamakan ghairu jaarin majral mitsl(tidak dapat berlaku sebagai contoh.Pada contoh terakhir bahwa seandainya kita hilangkan lafaz zhaalimin,niscaya pendengar akan beranggapan bahwa kuda Ibnul-Mu’taz itu dungu dan berhak dipukul. Makna yang demikian tidak sesuai dengan maksud pembicara. Tambahan itu dinamakan ihtiraas.