Jumat, 31 Oktober 2014

Laba-laba yang rapuh

Kali ini, marilah kita kutip surah Q.S. Al Ankabut [29]: 41: Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain dari Allah adalah seperti laba-laba mendirikan rumah. Dan sesungguhnya rumah-rumah yang paling rapuh ialah rumah laba-laba, kalau mereka mengetahui. 

Coba kita kutip ayat berikutnya: Dan perumpamaan-perumpamaan ini kami berikan kepada manusia. Dan hanya orang-orang yang berilmu yang mengetahui. (Q.S. Al Ankabut [29]: 43).

Iseng-iseng, cobalah dekatkan jari tangan ke salah satu benang pembentuk sarang laba-laba. Lalu cobalah untuk memutuskan benangnya. Benang tipis itu tidak akan putus, tapi justru membelit jari tangankita. Kekuatan benang itu baru terlihat manakala ada lalat atau serangga yang terbang hendak menerjangnya. Meski kecil, kecepatan terbang serangga itu tak bisa dibilang lambat. Namun, loloskah serangga itu? Bisa dijamin lalat atau serangga itu tak akan lolos dari jerat sarang laba-laba. Padahal, kalau dihitung dengan rumus momentum, beban yang diterima sarang itu pastilah tidak kecil.

Hampir semua orang teknik sipil mengetahui bahwa tegangan leleh baja mutu tinggi, seperti St/Bj. 44 dan St/Bj. 52 mempunyai tegangan leleh 280 Mpa/2.800 kg/cm2 dan 360 Mpa/3.600 kg/cm2 itu mempunyai kekuatan yang luar biasa besarnya. Bandingkan hasil penemuan ini! Para ilmuwan sudah mengakui kekuatan jaring laba-laba. Benangnya lima kali lebih kuat dari serat baja dengan ketebalan yang sama. Benang laba-laba memiliki gaya tegangan 15.000 kg/cm2. Jika ada seutas tali berdiameter 30 cm terbuat dari benang laba-laba, maka ia akan mampu menahan beban 150 mobil!

Dalam Tafsir Ad-Durul Mantsur karya Jalaluddin as-Suyuti memuat hadist mursal Abu Daud yang berasal dari Yazid bin Martsad tentang Sabda Rasulullah S.A.W. yang menyebutkan bahwa laba-laba adalah setan yang harus dibunuh bila mendapatinya. Lho, bukankah laba-laba yang justru berjasa membuat sarang menutupi pintu gua, melindungi Rasulullah S.A.W. bersama abu bakar sewaktu bersembunyi din Gua Tsur ketika hijrah? Tafsiran seperti itu tentu membuat penasaran. Harus ada sesuatu yang penting dari laba-laba.

Jadi, jaring laba-laba sama sekali tidak lemah dan bukan tidak berguna. Lantas, mengapa ayat Al Qur’an menyebutnya lemah? Firman Allah S.W.T tidak mungiin keliru. Tafsirnya yang perlu lebih disempurnakan lagi. Perhatikan ayat di atas baik-baik. Ternyata yang disebut lemah adalah rumahnya laba-laba “baitul ankabut”. Bukan jaring laba-laba “nusjatul ankabut” atau “spider web”. Laba-lba adalah karnivora, pamakan daging, yang membuat jaring jebakan, lalu bersarang di balik daun-daunan, di sudut tembok, di balik lemari. Di sana mereka menunggu mangsa yang terperangkap di jaring yang amat kuat itu, baru mendekat untuk membunuh dan menyeretnya untuk dimakan.

 Menurut H. Bambang Pranggono, MBA, IAI dari ITB, rumah (sarang) tempat diam dan bertelur laba-laba inilah yang mungkin bersifat lemah, jenis kelemahaanya belum terungkap, jadi harus diteliti oleh ilmuan muslim, setelah kekuatan jaring laba-laba ditemukan oleh ilmuan non muslim. Dengan begitu, Al Qur’an kita tempatkan pada fungsinya yang mulia, sebagai pedoman di segala sektor kehidupan, termasuk isyarat di bidang penelitian sains dan teknologi. Bukan hanya berisi anjuran beramai-ramai membunuh laba-laba.  
Wallahu a’lam.

Jaring laba-laba terbukti lebih ringan dan lebih kuat daripada baja  
Kekuatannya ternyata masih dapat dilipatgandakan dengan meyisipkan partikel-partikel logam tertentu. Seung-Mo Lee dari Max Planck Institute of Microstucture Physics di Halle, Jerman berhasil meningkatkan kekuatan jaring laba-laba hingga dua kali lipat. Satu helai jaring laba-laba yang telah direkayasa sanggup mengangkat beban seberat 27,5 gram. Ia dan timnya menemukan bahwa hal tersebut dapat dilakukan dengan menyisipkan partikel seng, titanium, atau aluminium. Lee juga tengah menguji coba pengaruh partikel logam lainnya. Teknik tersebut disebut atomic layer deposition. Mereka tidak hanya melapisi bagian luar jaring laba-laba dengan partikel-partikel logam tersebut namun juga menyisipkan ion logam ke dalamnya sehingga bereaksi dengan struktur protein jaring laba-laba.

Ide tersebut terinspirasi penelitian yang menunjukkan bahwa bagain-bagain tubuh hewan yang keras ternyata mengandung unsur logam. Misalnya, rahang semut pemotong daun yang mengandung seng berkadar tinggi. Kekuatan jaring laba-laba telah membuat takjub para ilmuwan sejak lama. Namun, untuk membuatnya dalam jumlah besar sulit dilakukan secara alami mengingat laba-laba yang hidup dalam pemeliharaan seringkali cenderung kanibal. Sebagai solusinya, para ilmuwan masih berupaya mencari cara alternatif meniru pembuatan jaring laba-laba artifisial.

Dalam Jurnal Ilmiah Science edisi 5 Jnuari 1996, ilmuan Jelinski dan koleganya dari Cornell University, Ithhaca, New York, mengungkap sebagian rahasia laba-laba. Dalam penelitiannya di laboratorium, ditemukan bahwa jaring laba-laba yang diproduksi dari tubuh binatang itu sendiri, terbuat dari molekul-molekul berbentuk serat, yang tersusun dari residu asam amino glisin 42%, alanin 25%, dan 33% sisanya glutamin, serin, dan triosin. Analisis Resonansi Magnetik serat terhadap jaring laba-laba yang mengandung 40% alanin menunjukkan suatu struktur yang terorganisir sangat rapi seperti kristal. Jaring laba-laba ternyata tahan air dan memiliki kekuatan 5 kali lebih besar dari baja dengan ukuran yang sama, dan 2 kali lebih lentur daripada serat nilon.  
 
Subhanallah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar